Pages

Subscribe:

Link

Rabu, 19 Oktober 2011

Just In Time

(Manajemen Operasi)
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG TIMBULNYA JIT
Dewasa ini, perkembangan pasar ditandai dengan meningkatnya jenis produk
yang diinginkan konsumen dan menurunnya waktu pakai (life cycles) suatu produk
(Wortmann, 1992). Kondisi ini memerlukan suatu strategi produksi baru, karena strategi
lama yaitu sistem produksi massal tidak dapat memenuhi tantangan ini (Browne et, al,
1988).
Strategi baru ini harus fleksibel, waktu pakai produknya singkat, serta mampu
memperkecil waktu produksi (manufacturing lead time) dan distribusi (ordering lead
time). Oleh karena itulah saat ini banyak perusahaan yang bergerak dalam bidang
manufacture dan assembling menggunakan sistem Just In Time (JIT).
JIT memerlukan tambahan pelatihan yang lebih banyak bila dibandingkan dengan system tradisional. Karyawan diberi pelatihan mengenai bagaimana menghadapi perubahanyang dilakukan dari system tradisional. Bagaimana cara kerja JIT. Apa yang diharpkan oleh JIT dan alat-alat statistic seharusnya dinerikan.
Tujuan JIT adalah untuk meningkatkan laba dan posisi persaingan perusahaan yang dicapai melalui usaha pengenadalian biaya, peningkatan kualitas, serta mamperbaiki kerja pengiriman. Tetapi ada satu hal yang perlu selalu di ingat ‘peningkatan daya saing tidak menjamin perusahaa akan survive, tetapi tidak memilki daya saing menjamin dengan pasr\ti terjadinya bencana

1.2 TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui apakah pengertian
dan konsep dasar dari penerapan sistem Just In Time (JIT). Selain itu juga
untuk megetahui apa yang menjadi tujuan utama dari diterapkannya sistem JIT pada
suatu perusahaan.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 JUST IN TIME (JIT)
2.1.1 DEFINISI JUST IN TIME

Terdapat banyak definisi dan deskripsi dari JIT, diantaranya :
a. JIT adalah suatu sistem produksi yang melakukan perbaikan secara terus menerus berdasarkan pada penghapusan segala bentuk waste (The Technology Transfer
Council of Australia, 1987).
b. JIT adalah suatu sistem produksi yang bertujuan untuk meminimalkan biaya produksi dengan membuat dan mendistribusikan barang dalam jenis, kuantitas, waktu dan
tempat yang tepat dengan menggunakan fasilitas, peralatan, dan sumber daya manusia seminimum mungkin (NSW Science and Technology Council, 1985).
c. JIT adalah suatu sistem produksi yang merubah kompleksitas manajemen manufaktur dengan kesederhanaan (Schonberger, 1984).
d. JIT adalah suatufilosofi manufaktur yang berusaha untuk memproduksi suatu produk dalam jangka waktu sesingkat mungkin dengan menghasilkan kesalahan seminimum mungkin (Hall, 1987). Suatu definisi yang mencakup seluruh aspek – aspek penting dari JIT diberikan oleh Munzberg (1986), yaitu :
“Just In Time adalah suatu metodologi produksi yang bertujuan untuk meningkatkan
seluruh performa perusahaan melalui penghapusan segala bentuk waste, yang akan
berakibat pada peningkatan kualitas dan membutuhkan peran serta total seluruh
karyawan”.
JIT merupakan suatu pendekatan yang menggunakan berbagaai macam disiplin
ilmu, misalnya statistics, industrial engineering, production management, dan behavioral
science. Oleh karena itu, maka JIT dapat dianggap sebagai suatu carapandang yang luas,
yang bersifat pragmatis dan empiris. Pragmatis dalam arti JIT memandang suatu proses
manufaktur dan lingkungannya sebagai suatu laboratorium riset, yang selain mempunyai
tujuan utama untuk menghasilkan prosduk – produk berkualitas juga mempunyai tujuan lainnya yang tidak kalah pentingnya yaitu untuk mempelajari berbagai macam perbaikan
– perbaikan yang dapat dilakukan untuk menghasilkan produk – produk yang lebih berkualitas. Sedangkan empiris berarti bahwa cara pandang JIT diterapkaan berdasarkan pada analisis data – data yang berhubungan dengan operasi dan manufaktur perusahaan (Fogarty, et.al, 1991).
Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa cara pandang JIT merupakan cara pandang yang dinamis, dalam arti JIT tidak akan pernah berhenti untuk melakukan improvisasi – improvisasi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Jadi prinsip dasaar dari JIT adalah perbaikan terus – menerus (Continous improvement) (Kaizen, 1986).

2.1.2 KONSEP DASAR SISTEM JUST IN TIME

Sistem produksi Just In Time pada awalnya dikembangkan dan di promosikan oleh Toyota Motor Corporation di Jepang. Strategi ini kemudian banyak diadopsi oleh banyak perusahaan Jepang, terutama setalah terjadinya krisis minyak dunia pada tahun 1973. Tujuan utama dari diterapkannya sistem produksi Just In Time ini adalah mengurangi ongkos produksi dan meningkatkan produktivitas total industri secara kesuluruhan dengan cara menghilangkan pemborosan (waste) secara terus menerus (John A. White: Production HandBook, Georgia Institute of Technology, 1987). Sasaran dari strategi produksi Just In Time (JIT).adalah reduksi biaya dan meningkatkan arus perputaran modal (capital turnover ratio) dengan jalan menghilangkan setiap pemborosan (waste) dalam sistem industri. JIT harus dipandang sebagai suatu yang lebih luas daripada sekadar suatu program pengendalian inventori. JIT adalah suatu filosofi yang berfokus pada upaya untuk menghasilkan produk dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan, pada tempat dan waktu yang tepat.

2.1.3 FILOSOFI JUST IN TIME (JIT)

Secara sederhana, filosofi JIT adalah “menghapuskan segala bentuk waste”, dan cara untuk mencapainya adalah dengan melakukan perbaikan terus – menerus (Contious Improvement) (Ohno, 1988; Japan Management Association, 1989). Waste didefinisikan sebagai segala bentuk aktivitas yang tidak memberi nilai tambah pada produk (Blackburn, 1991), atau semua elemen produksi yang hanya meningkatkan biaya produksi tanpaa memberi nilai tambah (Ohno, 1988).



Salah satu metode dalam system JIT untuk mengurangi waste karena barang menunggu adalah dengan menggunakan metode MFO (Multi Function Operator) yaitu penggabungan beberapa proses untuk memadatkan effisiensi kerja. Komponen waste yang terbesar adalah waste yang diakibatkan oleh persediaan yang berlebihan (Inventory). Fungsi utama persediaan (inventory) adalah sebagai pendukung antara produksi dan pasar, dalam arti apabila permintaan pasar tiba – tiba melonjak tinggi dan
kapasitas produksi tidak memadai, maka permintaan tersebut masih dapat dipenuhi dengan menggunakan persediaan yang ada. Tapi persediaan yang berlebihan ini mengakibatkan timbulnya masalah yang tersembunyi, salah satunya adalah tingginya lead time atau waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk jadi. Oleh karena itu dengan mengurangi jumlah persediaan maka masalah – masalah yang tersembunyi dapat terlihat dan dipecahkan. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut sampai ke akar – akarnya adalah cara 5W1H atau 5 Why 1 How (Ohno, 1988). Cara ini diterapkan dengan bertanya sebanyak lima kali tentang penyebab timbulnya suatu masalah (5 Why) dan akhirnya mengusulkan suatu cara untuk memperbaikinya (1 How). Terdapat dua hal dalam proses penghapusan waste, (Ohno, 1988), yaitu :
1. Eisiensi hanya berhasil apabila biaya produksi berkurang.
2. Peningkatan efisiensi harus dilakukan secara total dan bertahap.
Beberapa filosofi JIT lainnya adalah (Fogarty, et. al., 1991) :
1. Trend dari produk – produk yang dihasilkan harus semakin mengarah pada pemenuhan keinginan konsumen.
2. Fleksibilitas proses produksi, termasuk kemampuan untuk memberikan respon yang cepat terhadap permintaan pengiriman barang, perubahan desain produk, dan perubahan kuantitas produk. Fleksibilitas ini sangat penting untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi dengan biaya rendah.
3. Struktur organisasi yang terbuka dan terpercaya akan menjamin timbulnya sikap saling menghormati dan membantu antar pekerja, dan konsumen.
4. Kerja sama tim (team work) yang kompak dan solid diperlukan untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Seluruh manajemen, staff, dan buruh harus berpartisipasi aktif sehingga akan meningkatkan fleksibilitas, wewenang, dan tanggung jawab masing-masing bagian.
5. Setiap pekerja diberi kesempatan untuk mengusulkan perbaikan – perbaikan yang timbul mdari pekerjaan mereka.



Dari gambar diatas tampak bahwa sasaran dari strategi produksi Just In Time (JIT) adalah reduksi biaya dan meningkatkan arus perputaran modal (capital turnover ratio) dengan jalan menghilangkan setiap pemborosan (waste) dalam sistem industri. JIT harus dipandang sebagai suatu yang lebih luas daripada sekedar suatu program pengendalian inventory. JIT adalah suatu filosofi yang berfokus pada upaya untuk menghasilkan produk dalan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan, pada tempat dan waktu yang tepat. Tujuan utama JIT adalah menghilangkan pemborosan melalui perbaikan terus menerus (continuous improvement). Di bawah filosofi JIT, segala sesuatu baik material, mesin dan peralatan, sumber daya manusia, modal, informasi , manajerial, proses, dan lain lain yang tidak memberikan nilai tambah pada produk disebut pemborosan (waste). Nilai tambah produk, merupakan kata kunci dalam JIT. Pada dasarnya sistem produksi JIT mempunyai enam tujuan dasar sebagai berikut :
a. Mengintegrasikan dan mengoptimumkan setiap langkah dalam proses manufacturing.
b. Menghasilkan produk berkualitas sesuai keinginan pelanggan.
c. Menurunkan ongkos manufacturing secara terus – menerus.
d. Menghasilkan produk hanya berdasarkan permintaan pelanggan.
e. Mengembangkan fleksibilitas manufacturing.
f. Mempertahankan komitmen tinggi untuk bekerja sama dengan pemasok dan pelangggan.
Pendekatan JIT pada pengendalian kualitas terpadu (Total Quality Control = TQC) bertujuan untuk membangun suatu sikap yang berdasarkan pada tiga prinsip utama, yaitu:
1. Prinsip pertama : output yang bebas cacat adalah lebih penting dari pada output itu sendiri.
2. Prinsip kedua : cacat, kesalahan – kesalahan, kerusakan, kemacetan, dll., dapat dicegah.
3. Prinsip ketiga : tindakan pencegahan adalah lebih murah daripada pekerjaan ulang (rework). (Gaspersz, Vincent, Production planning and Inventory Control Berdasarkan Pendekatan Sistem Terintegrasi MRP II dan JIT Menuju Manufacturing 21, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1998.)
2.1.4 MANFAAT JIT
JIT bukan hanya sekedar metode pengedalian perediaan, tetapi juga merupakan system produksi system produksi yang saling berkaitan dengan semua fungsi dan aktivitas. Manfaat JIT antar lain :
1) Mengurangi ruangan gudang untuk penyimpanan barang.
2) Mengurangi waktu setup dan penundaan jadwal produksi
3) Mengurangi pemborosan barang rusak dan barang cacat dengan mendeteksi kesalahan pada sumbernya.
4) Penggunaan mesin dan fasilitas secara baik.
5) Menciptakan hubungan yang lebih baik dengan pemasok.
6) Loyout pabrik yang lebih baik.
7) Pengendalian kualitas dalam prosess.
2.1.5. HUBUNGAN ANTARA JIT DAN TQM
Untuk mengimplentasikan JIT diperlukan adanya system total quality secara keseluruhan dalam organisasi. JIt mensyartkan semua departemen dapat merespon kebutuhan-kebutuhannya. Apabila departemen produksi melaksanakan JIt, tetapi organosasi secara keseluruhan tiadak mengupayakan TQM, maka personil departemen produksi akan menghadapi hambatan yang besa. Selain itu JIT juga mensyaratkan perubahan, sehingga sering kali timbul penolakan dari departemen uang memilki komitmen untuk berbah. Perbaikan secara terus menerus (Kaizen) Kaizen atau perbaikan secara terus menerus selalu beriringan dengan Total Quality Management (TQM).
Bahkan sebelum filosofi TQM ini terlaksana atau sebelum system mutu dapat dilaksanakan dalam suatu perusahaan maka filosofi ini tidak akan dapat dilaksanakan sehingga perbaikan secara terus menerus (Just in time) ini adalah usaha yang melekat pada filosofi TQM itu sendiri. Sehingga Kaizen bisa juga merupakan suatu kesatuan pandangan yang komprehensif dan terintegrasi.
Kaizen adalah suatu istilah dalam bahasa jepang yang dapat diartikan sebagai perbaikan secara terus menerus (countinius improvement). Kaizen nerupakan suatu kesatuan pandangan yang komperhensif dan terintegrasi yang meliputi:
1) berorientasi pada pelanggan.
2) Pengendalian mutu secara menyeluruh
3) Robotic
4) Gugus kendali mutu
5) System saran
6) Otomatisasi
7) disiplin di temapt kerja
8) pemelihraan produktivitas secara menyeluruh
9) kanban
10) penyempurnaan perbaikan mutu
11) tepat waktu
12) tanpa cacat
13) kegiatan kelompok-kelompok kecil
14) hubungan kerja sama dengan manjer dan karyawan
15) pengembangan produk baru
kaizen mempunyai semangat mengadakan perbaikan secara terus-menerus dan berkesinambungan dengan berpedoman pada semangat, hari ini harus lebih dari haro kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini, tidak boleh ada hari tanpa ada perbaikan.
Adapun hirarki dalam kaizen adalah:
Manajemen Puncak Manajemen Madya Supervisor Karyawan
• mengintroduldi kaizen swbasai strategi perusahaan
• menyebarluakan dan mengimplemen taskan sasaran kaizen sesuai penghargan manajemen puncak meallui menebarluaskan kebijakan
• menggunakan kaizen dalam peranan fungsi
• Melibatkan diri dalam sisitem sasaran dan aktivitas kelompok kecil
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN

Dari uraian yang telah dikemukakan sebelumnya, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Just In Time adalah suatu metodologi produksi yang bertujuan untuk meningkatkan seluruh performa perusahaan melalui penghapusan segala bentuk waste, yang akan berakibat pada peningkatan kualitas dan membutuhkan peran serta total seluruh karyawan.
2. Tujuan utama dari diterapkannya sistem JIT adalah :
a. Mengintegrasikan dan mengoptimumkan setiap langkah dalam proses manufacturing.
b. Menghasilkan produk berkualitas sesuai keinginan pelanggan.
c. Menurunkan ongkos manufacturing secara terus – menerus.
d. Menghasilkan produk hanya berdasarkan permintaan pelanggan.
e. Mengembangkan fleksibilitas manufacturing.
f. Mempertahankan komitmen tinggi untuk bekerja sama dengan pemasok dan
pelangggan.

3.2 SARAN

Sebaiknya perlu diperhatikan hal – hal sebagai berikut :
1. Konsep JIT akan sangat besar dirasakan manfaatnya jika diterapkan pada proses
produksi yang mempunyai variasi produk yang sangat tinggi.
2. Selain diterapkan pada proses produksi, JIT akan sangat menguntungkan bagi
perusahaan jika diterapkan juga pada sistem pengadaan dan pengontrolan sirkulasi
material di warehouse finish good.


Definisi dan konsep dasar, persediaan, pull system dan push system, pengertian Kanban serta Fungsi dan aturan Just in Time
1. Sistem produksi tepat waktu (Just In Time) adalah sistem produksi atau sistem manajemen fabrikasi modern yang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan Jepang yang pada prinsipnya hanya memproduksi jenis-jenis barang yang diminta sejumlah yang diperlukan dan pada saat dibutuhkan oleh konsumen. Just In Time (JIT) adalah suatu keseluruhan filosofi operasi manajemen dimana segenap sumber daya, termasuk bahan baku dan suku cadang, personalia, dan fasilitas dipakai sebatas dibutuhkan. Tujuannya adalah untuk mengangkat produktifitas dan mengurangi pemborosan.
Just In Time didasarkan pada konsep arus produksi yang berkelanjutan dan mensyaratkan setiap bagian proses produksi bekerja sama dengan komponen-komponen lainnya.
Konsep dasar JIT adalah sistem produksi Toyota, yaitu suatu metode untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan akibat adanya gangguan dan perubahan permintaan, dengan cara membuat semua proses dapat menghasilkan produk yang diperlukan, pada waktu yang diperlukan dan dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan.
Dalam sistem pengendalian produksi yang biasa, syarat di atas dipenuhi dengan mengeluarkan berbagai jadwal produksi pada semua proses, baik itu pada proses manufaktur suku cadang maupun pada lini rakit akhir. Proses manufaktur suku cadang menghasilkan suku cadang yang sesuai dengan jadwal, dengan menggunakan sistem dorong, artinya proses sebelumnya memasok suku cadang pada proses berikutnya

2. Persediaan dalam system just-in-time yaitu
Persediaan JIT adalah untuk sistem persediaan yang dirancang guna mendapatkan barang secara tepat waktu. Pada persediaan JIT mensyaratkan bahwa proses atau orang yang membuat unit-unit rusak dapat dikirim untuk menunggu pengerjaan ulang atau menjadi bahan sisa. Sistim JIT menghapus kebutuhan akan persediaan karena tidak ada produksi sampai barang akan dijual. Hal ini berarti bahwa perusahaan harus mempunyai pesanan terus menerus agar dapat berproduksi Dalam system JIT menerapkan untuk membeli barang hanya dalam kuantitas yang dibutuhkan saja. Untuk itu perusahaan harus mengikat kontrak panjang kepada pemasok agar bersedia mengirimkan barang yang kita pesan sesering mungkin. Hal ini agar tidak adanya persediaan di gudang. Produksi JIT merupakan suatu sistem dimana tiap komponen dalam jalur produksi menghasilkan secepatnya saat diperlukan dalam langkah selanjutnya dalam jalur produksi. Perusahaan harus memproduksi barang sesuai dengan jumlah pesanan agar tidak adanya persediaan.

3. Pull system adalah aksi untuk melayani permintaan. pull system sebagai suatu proses produksi yang mengalir dengan ekspektasi inventori sekecil mungkin.
Push system adalah aksi untuk mengantisipasi kebutuhan, push system dengan proses manajemen dalam upaya mengurangi risiko stock-out.
Perbedaan pull system dan push system yaitu bahwa sistem manufaktur push membutuhkan ketersediaan inventori untuk mendukung kelancaran proses produksi, sedangkan sistem manufaktur pull menghendaki ketiadaan inventori karena dipandang sebagai beban biaya.

4. Contoh dari pull system dan push system adalah pada pull system, sebuah mesin melakukan proses produksi hanya jika ada permintaan dari mesin yang akan melakukan proses selanjutnya. Sebaliknya pada push system,sebuah mesin melakukan proses produksi tanpa harus menunggu permintaan dari mesin yang akan melakukan proses berikutnya

5. Pengertian Kanban :
Kanban dalam bahasa jepang berarti “Visual record or signal”. Sistem produksi JIT menggunakan aliran informasi berupa kanban yang berbentuk kartu atau peralatan lainnya seperti bendera,lampu dan lain-lain. Sistem kanban adalah suatu sistem informasi yang secara harmonis mengendalikan “produksi produk yang diperlukan dalam jumlah yang diperlukan pada waktu yang diperlukan” dalam tiap proses manufakturing dan juga diantara perusahaan. Menurut Taiichi Ohno, Kanban adalah suatu alat untuk mengendalikan produksi”, yang digunakan dalam mengendalikan aliran-aliran material melalui sistem produksi JIT dengan menggunakan kartu-kartu untuk memerintahkan suatu work center memindahkan dan menghasilkan material atau komponen tertentu.

Fungsi Kanban :
Kanban dalam sistem produksi Just In Time (JIT) mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut :
a) Memberikan informasi pengambilan dan pengangkatan
b) Memberikan informasi produksi
c) Berlaku sebagai perintah kerja yang ditempelkan langsung pada barang
d) Mencegah produk cacat dengan mengenali proses yang membuat cacat.
e) Mengungkap masalah yang ada dan mempertahankan pengendalian persediaan.
f) Pengendalian visual (visual control)
g) Perbaikan proses dan operasi manual.
h) Alat untuk melakukan improvement.

Aturan – aturan Kanban :
Peraturan 1
Proses berikutnya harus menarik (mengambil) produk yang diperlukan dari proses sebelumnya dalam jumlah yang diperlukan dan pada saat yang diperlukan (sesuai dengan yang tercantum dalam kanban).
Syarat penting untuk peraturan pertama ini adalah pelancaran produksi yaitu produksi harian yang ditingkatkan dan jumlah lot 1 unit, diperlukan untuk dapat ditarik dengan lancar dari proses sebelumnya. Sub peraturan yang harus dipenuhi antara lain:
1. Setiap pengambilan tanpa kanban harus dilarang
2. Setiap pengambilan yang lebih besar dari jumlah kanban harus dilarang
3. Kanban yang harus ditampilkan pada produk fisik.
Peraturan 2
Produk yang rusak tidak boleh diteruskan ke proses berikutnya.
Jika suatu produk rusak ditemukan oleh proses berikutnya, maka proses berikut ini akan menghentikan lininya, karena tidak memiliki persediaan, dan akan mengirim kembali produk yang rusak ini kepada proses sebelumnya

Peraturan 3
Jumlah kanban harus sekecil mungkin.
Mengingat jumlah kanban menyatakan persediaan maksimum suatu suku cadang, maka jumlah ini harus dijaga sekecil mungkin. Toyota menganggap tambahan tingkat persediaan sebagai asal mula semua jenis pemborosan.

Peraturan 4
1. Sistem kanban harus dipergunakan untuk menyesuaikan dengan fluktuasi permintaan yang kecil saja (penyetelan produksi dengan kanban). Penyetelan produksi dengan kanban, mempunyai arti sebagai berikut:Keadaan dimana tidak ada perubahan beban produksi seluruhnya dalam sehari, tetapi hanya perubahan jenis, tanggal penyerahan, dan jumlahnya. Dalam hubungan ini, sistem kanban dapat dianggap sebagai alat yang paling ekonomis untuk suatu sistem informasi.
2. Keadaan dimana ada perubahan jangka pendek dalam beban produksi sehari-hari, meskipun jumlah bulanan tetap sama. Untuk keadaan ini frekuensi gerakan kanban akan ditingkatkan atau dikurangi. Keadaan dimana ada perubahan permintaan musiman atau perubahan permintaan bulanan di luar beban yang sudah ditentukan. Untuk keadaan ini jumlah kanban harus ditambahi atau dikurangi, dan pada waktu bersamaan semua lini produksi harus diatur kembali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar