Pages

Subscribe:

Link

Minggu, 14 Oktober 2012

Pendapatan Nasional



DATA MAKROEKONOMI
(Pengantar Ekonomi Makro)

Sistematika pembahasan mengenai data makroekonomi difokuskan pada tiga data statistik yang secara intensif dijadikan bahan pertimbangan oleh para ekonom untuk menganalisa perekonomian dan pihak pemerintah sebagai salah satu upaya monitoring pembangunan dan formulasi kebijakan. Ketiga data statistik tersebut meliputi : Pertama, Produk Domestik Bruto (PDB) yang menyatakan pendapatan total dan pengeluaran total nasional atas output barang dan jasa. Kedua, Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mengukur tingkat harga. Ketiga, Tingkat pengagguran yang menyatakan jumlah pekerja yang tidak memiliki pekerjaan.

Mengukur Nilai Aktivitas Ekonomi : Produk Domestik Bruto
            Produk domestik bruto sering diangap sebagai ukuran terbaik dari kinerja perekonomian.   Terdapat dua pendekatan utama yang digunakan untuk melihat statistik ini. Yakni, dengan melihat PDB sebagai pendapatan total dari setiap orang di dalam perekonomian dan sebagai pengeluaran total atas output barang dan jasa perekonomian. 

Pendapatan, Pengeluaran, dan Aliran Berputar

            Bayangkan suatu pereknomian yang hanya memproduksi produk tunggal yaitu roti, yang berasal dari faktor produksi/input tunggal juga yaitu tenaga kerja.  Gambar 1.2 memperlihatkan seluruh transaksi ekonomi yang terjadi antara pelaku ekonomi suatu perekonomian yaitu rumah tangga dan perusahaan.
            Aliran dalam pada Gmbar 1.2 menunjukkan aliran roti dan tenaga kerja.  Perusahaan menggunakan para pekerjabya untuk memproduksi roti yang kemudian dijual kpada rumah tangga.  Dengan demikian tenaga kerja mengalir dari rumah tangga kepada perusahaan, dan roti mengalir dari perusahaan kepada rumah tangga.  Sementara putaran alur menunjukkan arus uang.  Rumah tangga membeli roti dari perusahaan.  Perusahaan menggunakan sebagian penerimannya dari hasil penjualan roti untuk membayar upah tenaga kerja, dan sisanya merupakan laba yang dinikmati pemilik perusahaan.
            Berdasarkan penjelasan sederhana tersebut GDP mengukur arus uang dalam perekonomian.  Kita bisa menghitung GDP melalui dua cara yaitu GDP sebagai pendapatan total dari produksi roti yang sama denga upah dan laba (bagian atas dari arus uang).  GDP juga merupakan pengeluaran atas total pembelian roti (bagian bawah dari arus uang)
  

                                    Gambar 1.2.  Aliran Berputar (Circular Flow)


Beberapa kaidah untuk Menghitung PDB
            Untuk menghitung PDB dalam perekonomian yang lebih kompleks, akan sangat membantu jika kita memiliki definisi yang tepat: Produk domestik bruto (GDP) adalah nilai pasar semua barang dan jasa akhir yang diproduksi dalam perekonomian selama kurun waktu tertentu. Untuk melihat penerapan definisi ini, mari kita diskusikan beberapa kaidah yang harus diikuti oleh para ekonom dalam membangun statistik ini.

1.      Menjumlahkan Apel dan Jeruk
            Perekonomian memproduksi banyak barang dan jasa yang berbeda. PDB mengkombinasikan nilai barang dan jasa ini menjadi sebuah ukuran tunggal. Misalnya, perekonomian memproduksi empat apel dan tiga jeruk. Untuk menghitung nilai total dari barang dan jasa yang berbeda, pos pendapatan nasional (national income accounts) menggunakan harga pasar karena mencerminkan banyaknya orang yang bersedia membayar untuk barang atau jasa. Jadi, jika harga apel $0,50 dan harga jeruk $1,00,PDB akan menjadi:

PDB = (Price of apples ´ Quantity of apples) + (Price of oranges ´ Quantity of                            oranges)
         = ($0.50 ´ 4) + ($1.00 ´ 3)
PDB = $5.00

      PDB sama dengan $5,00 yaitu nilai seluruh apel ($2,00), ditambah nilai seluruh jeruk ($3,00).

2.      Barang Bekas
            PDB mengukur nilai barang dan jasa yang baru diproduksi. Jadi, penjualan barang-barang bekas pakai tidak menjadi bagian dari PDB.

3.      Perlakuan Persediaan
            Kaidah umumnya adalah bila suatu perusahaan meningkatkan persediaan barangnya, investasi dalam persediaan ini dihitung sebagai pengeluaran oleh pemilik perusahaan. Jadi, produksi untuk persediaan meningkatkan PDB sebanyak produksi untuk penjualan akhir. Namun, penjualan persediaan merupakan kombinasi dari pengeluaran positif (pembelian) dan pengeluaran negatif (pengeluaran persediaan), sehingga tidak mempengaruhi PDB. Perlakuan persediaan ini menegaskan bahwa PDB mencerminkan produksi barang dan jasa perekonomian pada saat ini.

4.       Barang Setengah Jadi dan Nilai Tambah
            Banyak barang diproduksi dalam beberapa tahap: bahan mentah diproses menjadi barang setengah jadi (intermediate good) oleh sebuah perusahaan dan dijual ke perusahaan lain untuk pemrosesan akhir. PDB hanya memasukkan nilai produk akhir. Alasannya, nilai barang setengah jadi sudah menjadi bagian dari harga pasar barang jadi yang digunakan. Menambah barang setengah jadi ke barang jadi akan memimbulkan perhitungan ganda (double counting). Dengan demikian, PDB adalah nilai total dari barang dan jasa jadi yang diproduksi. Salah satu cara untuk menghitung nilai seluruh barang dan jasa jadi adalah menjumlahkan nilai tambah dari setiap tahap produksi. Nilai tambah (value added) dari sebuah perusahaan sama dengan nilai output perusahaan itu dikurangi nilai barang setengah jadi yang dibeli perusahaan.
     
5.      Jasa Perumahan dan Jasa-jasa Terkait Lainnya
            Meskipun kebanyakan barang dan jasa dinilai berdasarkan harga pasarnya ketika menghitung PDB, namun sebagian tidak dijual di pasar dan karena itu tidak memiliki nilai pasar. Jika PDB ingin mencakup nilai barang dan jasa ini, kita harus munggunakan perkiraan nilainya. Perkiraan itu disebut nilai terkait (imputed value).
            Untuk melihat bagaimana PDB riil dihitung, bayangkan kita ingin membandingkan output pada tahun 2002 dan output 2003 dalam perekonomian apel dan jeruk. PDB riil untuk tahun 2002 adalah

                        PDB Riil = (Harga Apel 2002 х Jumlah Apel 2002) +
                                           (Harga Jeruk 2002 х Jumlah Jeruk 2002)

Demikian pula, PDB Riil 2003 adalah
                        PDB Riil = (Harga Apel 2003 х Jumlah Apel 2003) +
                                           (Harga Jeruk 2003 х Jumlah Jeruk 2003)

Dan, PDB Riil pada tahun 2004 adalah
                        PDB Riil = (Harga Apel 2004 х Jumlah Apel 2004) +
                                           (Harga Jeruk 2004 х Jumlah Jeruk 2004)




Deflator PDB
            Deflator PDB mencerminkan apa yang sedang terjadi pada seluruh tingkat harga dalam perekonomian. Deflator PDB, disebut juga dengan deflator harga implisit untuk PDB, didefinisikan sebagai rasio PDB nominal terhadap PDB riil:

                        Deflator PDB =       PDB Nominal
                                                            PDB Real
            PDB nominal mengukur nilai uang yang berlaku dari output perekonomian. PDB riil mengukur output yang dinilai pada harga konstan. Deflator PDB mengukur harga output relatif terhadap harganya pada tahun dasar.

Ukuran Rantai Tertimbang PDB Riil
            Kita telah membahas PDB riil seolah-olah harga yang digunakan untuk menghitung ukuran ini tidak pernah berubah dari nilai tahun dasarnya. Misalnya, harga komputer turun secara dramatis belakangan ini, sementara uang kuliah per tahun di perguruan tinggi naik. Ketika menilai produksi computer dan pendidikan, tidak tepat bila kita menggunakan harga yang diberlakukan sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu.
            Pada tahun 1995, Biro analisis ekonomi mengumumkan kebijakan baru yang terkait dengan perubahan tahun dasar. Kebijakan itu menekankan ukuran rantai tertimbang (chain weighted) PDB riil. Dengan ukuran baru ini, tahun dasar akan terus menerus berubah. Esensinya, harga rata-rata pada tahun 2001 dan 2002 digunakan untuk mengukur pertumbuhan riil dari tahun 2001 sampai 2002, harga rata-rata pada tahun 2002 dan 2003 digunakan untuk mengukur pertumbuhan riil dari tahun 2002 sampai 2003, dan seterusnya. tingkat pertumbuhan tahun ke tahun yang berbeda-beda ini kemudian disatukan untuk membentuk sebuah ”rantai” yang bisa digunakan untuk membandingkan output barang dan jasa di antara dua waktu.
Komponen-komponen Pengeluaran
            Para ekonom dan para pembuat keputusan tidak hanya peduli pada output barang dan jasa total, tetapi juga alokasi dari output ini diantara berbagai alternatif. Pos pendapatan nasional membagi PDB  menjadi empat kelompok pengeluaran :
·         Konsumsi (C)
·         Investasi (I)
·         Pembelian pemerintah (G)
·         Ekspor neto (NX)


Y = C + I + G + NX

 
 
     

            PDB adalah jumlah konsumsi, investasi, pembelian pemerintah, dan ekspor bersih. Konsumsi (consumption)  terdiri dari barang dan jasa yang dibeli rumah tangga. Investasi (investment) terdiri dari barang-barang yang dibeli untuk penggunaan masa depan. Pembelian pemerintah (government purchases) adalah barang dan jasa yang dibeli oleh pemerintah pusat, negara bagian. Ekspor neto (net exports) adalah nilai barang dan jasa yang dieksport ke negara lain dikurangi nilai barang dan jasa yang di impor dari negara lain.

            PDB dan Komponen-komponen Pengeluaran Indonesia : 2007

Total (Rp)
Per Orang (Rp)
Produk Domestik Bruto


Konsumsi


Barang tidak tahan lama


Barang tahan lama


Jasa


Investasi


Investasi tetap nonresidensial


Investasi tetap residensial


Investasi persediaan


Pembelian Pemerintah


Federal


Pertahanan


Nonpertahanan


Negara bagian dan daerah


Ekspor Neto


Ekspor


Impor





Ukuran-ukuran Pendapatan Lain
            Untuk melihat bagaimana ukuran-ukuran pendapatan alternatif saling terkait, mulai dengan PDB dan menambah atau mengurangi berbagai kuantitas. Untuk mendapatkan produk nasional bruto (gross national product, PNB), kita menambah penerimaan dari pendapatan faktor produksi (upah, laba, dan sewa) dari seluruh dunia dan mengurangi pembayaran dari pendapatan faktor ke seluruh dunia:

PNB = PDB + Pembayaran Faktor dari Mancanegara – Pembayaran Faktor ke                               Mancanegara.

            Bila PNB mengukur pendapatan total yang diproduksi secara domestik, PNB mengukur pendapatan total yang diperoleh oleh negara (penduduk suatu negara). Untuk mendapatkan produk nasional netto (net national product, NNP), kita kurangi depresiasi modal-jumlah persediaan pabrik, peralatan, dan struktur residensial perekonomian yang habis dipakai selama setahun :

                                                NNP = PNB – Depresiasi

Mengukur Biaya Hidup : Indeks Harga Konsumen
            Ukuran mengenai tingkat harga yang paling banyak digunakan adalah indeks harga konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI). CPI adalah harga sekelompok barang dan jasa relatif terhadap harga sekelompok barang dan jasa yang sama pada tahun dasar.
      Sebagai contoh, anggaplah seorang konsumen membeli 5 apel dan 2 jeruk setiap bulan. Maka kelompok barang itu terdiri dari 5 apel dan 2 jeruk, dan CPInya adalah

               CPI = (5 x Harga Apel Sekarang) + (2 x Harga Jeruk Sekarang)
                                  (5x Harga Apel 2002) + (2x Harga Jeruk 2002)
     
      Pada CPI ini, tahun 2002 adalah tahun dasar. Indeks itu menyatakan berapa biaya yang harus dibelanjakan untuk membeli 5 apel dan 2 jeruk sekarang relatif terhadap harga buah yang sama pada tahun 2002.
CPI Versus Deflator PDB
            Perbedaan pertama adalah deflator PDB mengukur harga seluruh barang dan jasa yang diproduksi, sedangkan CPI hanya mengukur harga barang dan jasa yang dibeli konsumen.
            Perbedaan kedua adalah bahwa deflator PDB hanya mencakup barang dan jasa yang diproduksi secara domestik. Barang-barang impor bukan merupakan bagian dari PDB dan tidak meningkatkan deflator PDB.
            Perbedaan ketiga disebabakan oleh cara kedua ukuran itu mengagregatkan berbagai tingkat harga dalam perekonomian. CPI menggunakan timbangan tetap terhadap harga barang-barang yang berbeda, sedangkan deflator PDB menggunakan timbangan tidak tetap.

Mengukur Tuna Karya: Tingkat Pengangguran
            Satu aspek dalam kinerja ekonomi adalah seberapa efektif suatu perekonomian menggunakan sumber daya dengn baik. tingkat pengangguran adalah statistik yang mengukur persentase orang-orang yang ingin bekerja tetapi tidak mempunyai pekerjaan.
            Angkatan kerja (labor force) didefinisikan sebagai jumlah orang yang sedang bekerja dan orang yang menganggur, dan Tingkat pengangguran  (unemployment rate) didefinisikan sebagai persentase dari angkatan kerja yang tidak bekerja.


 






Hukum Okun
            Hubungan negatif di antara pengangguran dan PDB riil disebut dengan Hukum Okun (Okun’s Law), diambil dari nama Arthur Okun, ekonom yang pertama kali mempelajarinya. Dalam jangka pendek,dinyatakan bahwa:

            Perubahan Persentase dalam PDB riil = 3% - 2 x Perubahan dalam Tingkat                                                                             Pengangguran.

            Jika tingkat pengangguran tetap sama, PDB riil tumbuh sekitar 3 persen; pertumbuhan produksi barang serta jasa yang normal ini merupakan hasil dari pertumbuhan angkatan kerja, akumulasi modal, dan kemajuan teknologi. Selain itu, untuk setiap poin persentase kenaikan tingkat pengangguran, pertumbuhan PDB riil biasanya turun sebesar 2 persen. Jadi, jika tingkat pengangguran naik dari 6 persen menjadi 8 persen, maka pertumbuhan PDB riil akan menjadi.

            Perubahan Persentase dalam PDB riil  = 3% - 2 ´ (8% - 6%) = - 1%


EVALUASI
1.      Sebutkanlah dua hal yang diukur PDB. bagaimana PDB bisa mengukur kedua hal itu sekaligus ?
2.      Apakah yang diukur indeks harga konsumen ?
3.      Jelaskanlah tiga kategori yang digunakan Biro Statistik Tenaga Kerja untuk mengelompkkan setiap orang dalam perekonomian. Bagaimana biro itu menghitung tingkat pengangguran ?
4.      Jelaskan Hukum Okun ?

Referensi:
Mankiw, N.G. 2003. Macroeconomics. Fifth Edition. Worth Publishers, New York

2 komentar:

Anonim mengatakan...

jawaban evaluasi 1 apa

Daniel Kristano mengatakan...

min jawaban evaluasi 1 apa? butuh nie untuk tugas kampus

Poskan Komentar